MEMORI SEGELAS KOPI




Rintik hujan mulai turun pagi hari ini. Segera aku beranjak dari pembaringan, menuju dapur kecil untuk memanaskan air. Mengambil beberapa sendok kopi hitam dan memasukkannya ke dalam cangkir hijau kesayanganku.

Setelah selesai aku berjalan menuju teras rumah. Menikmati dinginnya udara pagi yang menusuk tulang. Aku suka cuaca mendung ini. Mengantarkanku pada potongan kisah masa lalu.
***

"Yah, hujan nih tidak jadi pergi dong ya?" katamu dengan wajah kecewa.

"Sabar ya, tunggu dulu hujannya reda," aku hanya tersenyum melihat tingkah seperti anak kecil itu.

"Sepertinya hujan ini akan awet, Kak" lagi-lagi kau mengeluh sambil berlalu ke belakang. Rupa wajahmu malah terlihat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu.

"Bagaimana kalau kita menerabas hujan saja, Kak?" tanyamu lagi penuh harap.

"Jangan dong, nanti kalau kamu sakit repot lah aku," larangku saat itu.

Itu hanya sepenggal kenangan saat kita bersama. Begitu membahagiakan. Kau, selalu mencerahkan hari-hariku.
***

"Kak, aku mau bicara," katamu pada suatu hari.

"Silakan bicara saja, " aku menyesal saat itu menjawab begitu. Harusnya kuhindari pembicaraan ini.

Melihat gelagatmu, rasanya hatiku menjadi tak karuan. Kusesap perlahan gelas kopi yang ada pada tanganku. Sambil memperhatikan wajahmu nan begitu memesona. Aku tidak tahu jika ternyata itu adalah hari terakhir kita bersama.

Tanganmu kikuk menyodorkan undangan manis berwarna hijau. Refleks, aku melihat nama yang tertera di undangan tersebut.

RR. REVIKA CAYYA RIMESTU
&
R. MAHENDRA PRABAJATMIKO

Aku tertegun. Ada gemuruh yang menghantam dada. Sesak teramat sangat tiba-tiba saja menderaku.

"Selamat ya, Rev" kataku waktu itu.
Ingin rasanya memaki, namun tak tahu siapa yang harus kumaki. Ingin rasanya kecewa  namun aku tahu rasa ini suatu hari memang akan hadir.

Perbedaan kasta.
Begitu kata ayahmu dulu saat menolak hubungan kita. Aku paham, keluargamu masih kental menganut hal yang seperti itu.

Aku hanya bisa memelukmu untuk terakhir kalinya. Mencium aroma tubuhmu. Menikmati wajah indah dengan alis tebal. Kutahan air mata yang hendak membasahi pipi. Aku lelaki, tak boleh menangis.

Aku pergi. Eh, lebih tepatnya aku terpaksa pergi. Karena kau terlebih dahulu telah meninggalkanku di belakang. Kau pergi bersama lelaki pilihan orang tuamu.
***

Aku membisu, memandangi secangkir kopi kesukaannku. Kini hanya dia yang menjadi teman laraku. Aku selalu menyeduh kopi, jika ingat dirimu. Hanya itu pengobat rinduku.

#TheFighter
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#KamisCerpen
#LaguHujanTurun_SO7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengalaman mengikuti pra matrikulasi IIP